Aku tak ingat kapan pertama kali aku bisa menendang bola. Kebetulan saat itu di sekolahku memang sering diadakan pertandingan sepak bola. Dan aku terpilih menjadi salah satu pemain di tim sepak bola di sekolah. Aku juga menjadi pemain termuda di sekolah kami. Meskpun aku pemain termuda, kata guruku aku termasuk yang berbakat.

Pagi itu tim kami melawan tim dari sekolah lain yang merupkan tim tangguh dan sudah cukup terkenal. Kebetulan saat itu hujan turun dengan lebat. Lapangan menjadi sangat licin membuat aku sering tergelincir. Bola selalu luput dari kejaranku, sebenarnya aku merasa senang karena aku jadi bisa merasakan main hujan, karena aku sering dilarang untuk main hujan. Dan ini seperti sebuah kesempatan untukku bisa main hujan. Suatu kali aku terjatuh dengan keras, lututku terasa nyeri dan sangat perih. Tetapi aku tidak berhenti karena semangat dari teman-teman. Dan diantara penonton aku juga bisa mendengar suara mamaku yang tak berhenti mengelu-elukan aku. Ini suatu kebanggaan bagiku karena mama bela-belain tidak masuk kerja karena ingin melihatku bertanding.

Tiba-tiba bola datang kearahku dengan sangat cepat diiikuti segerombolan tim lawan yang bertubuh lebih besar dariku. Disaat aku memikirkan ukuran tubuhnya dengan tubuhku yang lebih kecil salah seorang dari mereka membenturku. Aku terjatuh lagi dengan kakiku terpelintir dan aku tidak bisa bangun lagi. Wasit meniup peluit dan membantuku keluar dari lapangan. Kulihat wajah mama nampak bersedih dan khawatir diantara penonton. Ada gurat kekecewaan membias dari mukanya. Aku berjalan terpincang-pincang dengan lututku yang bengkak. Tim kami kalah berat, ternyata kami belum mampu menandingi tim sekolah itu.

Aku sangat sedih, ini adalah kekalahan terbesar dalam hidupku, aku merasa malu sama mama yang sudah berusaha datang demi aku. Padahal aku sudah meyakinkan mama akan menyumbangkan sebuah gol baginya. Dan butuh waktu yang lama untuk bisa mengobati kepedihan hatiku sekaligus cidera pada kakiku.

Hingga tiba saat pertandingan selanjutnya. Aku tetap dimasukkan dalam tim sekolahku. Kami tetap melawan tim sekolah yang mengalahkan kami saat itu. Dan ini kesempatan bagus bagiku untuk bisa membalas kekalahan yang lalu. Karena bagiku, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Matahari tampak sangat terik kali ini. Bulir-bulir keringat terus menerus keluar dari tubuhku. Saat ada bola datang padaku, tak aku sia-siakan lagi. Seperti ada magnet di kakiku hingga bola itu mudah sekali aku giring. Bahkan lawan-lawanku tak bisa merebutnya dariku. Aku terus melaju dan aku arahkan bola ke gawang dengan tendangan yang sangat kuat yang akhirnya bola meluncur dengan deras tanpa bisa diselamatkan oleh kiper. Dan penonton bersorak dengan riuhnya. Aku hampir tak percaya kalau aku bisa menendangnya dengan sangat kencang. Hatiku terasa berbunga-bunga seperti menemukan oase di tengah gurun pasir yang sangat tandus.

Sayang sekali mama tidak mau lagi menyaksikan aku bertanding. Ada sedikit kekecewaan dalam hatiku. Dan kali ini tim sekolah kami yang menang, meskipun dengan kemenangan yang sangat tipis. Inilah saat yang paling membahagiakan bagiku. Tak henti-hentinya aku tersenyum. Ternyata kemenangan yang tertunda itu memberikan rasa yang sangat indah. Senyuman yang tertunda memberikan rasa yang beda.